Recent

Kemiskinan di Indonesia terjadi karena takdir atau sistem?





Mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim maka akan lebih pas jika persoalan kemiskinan ini dijawab menggunakan perspektif Islam (Al Quran).
Di dalam Al Quran ada ayat yang bunyinya:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” [QS Ar Ra’d: 11]
Dalam ayat tersebut, tidak hanya tersirat tetapi tersurat, Tuhan mengingatkan bahwa keadaan suatu masyarakat (kaum), apakah ingin makmur, sejahtera, aman, tentram dan damai, harus diupayakan (diubah) oleh kaum atau masyarakat itu sendiri.
Karena suatu kaum adalah kumpulan manusia, bukan perseorangan, maka tentu usaha perubahan itu haruslah dirancang dan dilaksanakan secara bersama. Di sinilah pentingnya sistem. Suatu sistem akan berfungsi dengan baik jika manusia-manusia komponen dan penggerak sistem tadi bisa saling memahami, menghargai, dan bekerja sama secara solid dan kompak.
Andai pemimpin dan umat Islam Indonesia benar-benar memahami maksud ‘peringatan’ Allah dalam QS Ar Ra’d ayat 11 di atas, pastilah ‘kaum’ yang bernama Bangsa Indonesia ini bisa bersatu, kompak dan saling bekerjasama. Hanya dengan itulah semua sistem yang kita bangun untuk kesejahteraan bangsa akan berjalan
Masalah kita di Indonesia hari ini adalah sistem itu relatif tidak berfungsi dengan baik karena terlalu menonjolnya ego sektoral. Jangankan dalam konteks kebangsaan yang sangat majemuk, di dalam kalangan Islam sendiri yang nota bene adalah kelompok mayoritas, soliditas dan kekompakan itu tidak ada. Yang menonjol justru pertengkaran dan perpecahan karena perbedaan mazhab dan paham.
Ego sektoral itu bukan hanya melumpuhkan sistem, tetapi lebih dari itu menutup mata hati dan akal sehat yang menyebabkan kita tidak mampu belajar dan menarik pelajaran dari sejarah. Tentang ini pun Allah sudah mengingatkan manusia melalui ayat berikut.
“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.” [QS Ar Rum:19]
Kemiskinan di Indonesia terjadi karena takdir atau sistem? Sistem! Takdir, menurut saya, lebih berkaitan dengan peruntungan personal yang dipengaruhi oleh fisik, bakat, kecerdasan, dan kepribadian yang dibawa (ditakdirkan) pada saat seseorang lahir.
Negara Finlandia atau Denmark disebut negara makmur karena sistem sosial dan ekonominya baik sehingga bisa membuat sebagian besar rakyatnya sejahtera. Namun demikian tidak berarti takdir manusia di kedua negara itu sama. Seseorang mungkin tergolong prasejahtera untuk ukuran masyarakat di kedua negara tersebut, tetapi boleh jadi tergolong lebih sejahtera jika dibandingkan dengan kehidupan orang-orang di Indonesia.

Jadi, majunya suatu bangsa/negara (kaum) sangat ditentukan oleh sistem yang dibangun oleh masyarakatnya. Tetapi, di mana pun di dunia ini baik negera maju atau negara berkembang, perbedaan peruntungan antara individu warganya pasti selalu ada. Karena takdirnya memang berbeda.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kemiskinan di Indonesia terjadi karena takdir atau sistem?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel