Recent

Pihak yang dianggap sebagai dalang peristiwa G30S PKI




Tulisan ini tidak bermaksud membela suatu kelompok/pihak mohon kebijakan pembaca.

Dalam kesempatan ini, saya tidak bermaksud untuk membela pihak tertentu, tapi inilah ytang saat ini beredar di tengah masyarakat. Setidaknya, terdapat 5 Versi Dalang Peristiwa G30S. Sejak memasuki era reformasi penamaan peristiwa yang terjadi pada tengah malam tanggal 30 September 1965 atau G30S tidak mencantumkan nama /PKI lagi dibelakangnya karena setelah diteliti dalang peristiwa ini tidak hanya PKI.

Banyak versi yang mengungkapkan siapa dalang peristiwa ini yang sebenarnya mulai dari Soekarno sampai intervensi CIA. Kali ini saya akan membahas berbagai versi mengenai dalang atau pelaku utama peristiwa yang sangat berpengaruh di Indonesia ini.

PKI
Versi ini adalah yang paling umum dipelajari dan versi ini adalah buatan pemerintah Orde Baru. Literatur pertama dibuat sejarawan Nugroho Notosusanto dan Ismael Saleh berjudul Tragedi Nasional Percobaan Kup G30SPKI di Indonesia (1968). Intinya menyebut skenario PKI yang sudah lama ingin mengkomuniskan Indonesia. Buku ini juga jadi acuan pembuatan film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer.

Rezim Orde Baru juga membuat Buku Putih yang dikeluarkan oleh Sekretariat Negara dan Sejarah Nasional Indonesia yang disunting Nugroho Notosusanto yang kemudian diajarkan ke murid-murid sekolah saat Soeharto berkuasa. Penyebutan G30S/PKI menegaskan bahwa pelaku sebenarnya pembunuhan para petinggi AD adalah PKI yang ingin merubah ideologi Indonesia dari Pancasila menjadi komunisme.

Konflik Internal Angkatan Darat
Menurut sejarawan Amerika, Benedict Anderson peristiwa G30S adalah puncak dari konflik internal Angkatan Darat. Menjelang tahun 1965, Angkatan Darat terbagi menjadi dua kubu yang pertama kubu tengah dan kubu kanan, kedua kubu ini sama-sama anti PKI namun mereka berbeda pendapat mengenai Soekarno.

Kubu tengah adalah orang-orang yang loyal kepada Soekarno, salah satu tokoh kubu tengah adalah Letjen Ahmad Yani. Ahmad Yani hanya menentang kebijakan persatuan nasional karena ada PKI yang termasuk didalamnya. Sementara itu kubu kanan adalah kubu yang menentang kebijakan Ahmad Yani yang cenderung Soekarnoisme, tokoh dari kubu kanan ada Jendral A.H Nasution dan Mayjen Soeharto.

Peristiwa G30S yang bertujuan untuk menyelamatkan pemerintahan Soekarno dari kudeta Dewan Jendral sebenarnya adalah upaya kubu kanan untuk menyingkirkan petinggi AD dari faksi tengah.

Soekarno
Setidaknya terdapat tiga buku yang menuding Presiden Sukarno terlibat dalam peristiwa G30S: Victor M. Fic, Anatomy of the Jakarta Coup, October 1, 1965 (2004); Antonie C.A. Dake, The Sukarno File, 1965-67: Chronology of a Defeat (2006) yang sebelumnya terbit berjudul The Devious Dalang: Sukarno and So Called Untung Putsch: Eyewitness Report by Bambang S. Widjanarko (1974); dan Lambert Giebels, Pembantaian yang Ditutup-tutupi, Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno.

Ketiga buku ini peristiwa G30S mengarah kepada de-Soekarno-isasi yaitu menjadikan presiden Soekarno sebagai dalang utama peristiwa G30S. Ketika buku Dake terbit di Indonesia dengan judul Sukarno File (2005), keluarga Sukarno protes keras dan menyebutnya sebagai pembunuhan karakter terhadap Sukarno. Untuk menyanggah buku-buku tersebut, Yayasan Bung Karno menerbitkan buku Bung Karno Difitnah pada 2006. Cetakan kedua memuat bantahan dari Kolonel CPM Maulwi Saelan, wakil komandan Resimen Tjakrabirawa.

Soeharto
Komandan Brigade Infanteri I Jaya Sakti Komando Daerah Militer V, Kolonel Abdul Latief dalam Pledoi Kolonel A. Latief: Soeharto Terlibat G30S (1999) mengungkapkan bahwa dia melaporkan akan adanya G30S kepada Soeharto di kediamannya di Jalan Haji Agus Salim Jakarta pada 28 September 1965.

Empat jam sebelum G30S dimulai, Latief kembali melapor kepada Soeharto bahwa operasi penggagalan kudeta Dewan Jenderal akan dilakukan tengah malam 1 Oktober 1965 dan Soeharto tidak mencegah atau melarang operasi tersebut. Fakta bahwa Soeharto mengetahui rencana G30S dan tidak melaporkannya ke Ahmad Yani atau A.H Nasution menjadi titik awal bagi analisis kudeta merangkak yang dilakukan Soeharto.

Ada beberapa varian kudeta merangkak, antara lain disampaikan oleh Saskia Wierenga, Peter Dale Scott, dan paling akhir Soebandrio, mantan kepala Badan Pusat Intelijen (BPI) dan menteri luar negeri. Menurut Soebandrio dalam bukunya Kesaksianku tentang G30S bahwa kudeta Soeharto dilakukan melalui empat tahap: menyingkirkan jenderal pesaing Soeharto melalui peristiwa G30S, membubarkan partai PKI, menangkap 15 menteri yang loyal kepada Soekarno, dan mengambil alih kekuasaan dari Soekarno.

CIA
Akibat memanasnya situasi Perang Dingin pada 1960an membuat Amerika Serikat dan negara blok barat lainnya tidak membiarkan Indonesia sampai jatuh ke tangan komunis. Akhirnya AS pun menyiapkan berbagai opsi untuk menangani Indonesia.

Menurut David T. Johnson dalam buku Indonesia 1965: The Role of the US Embassy, opsinya adalah membiarkan saja, membujuk Sukarno beralih kebijakan, menyingkirkan Sukarno, mendorong Angkatan Darat merebut pemerintahan, merusak kekuatan PKI dan merekayasa kehancuran PKI sekaligus menjatuhkan Soekarno. Opsi terakhir yang dipilih.

Keterlibatan Amerika Serikat melalui operasi CIA (Dinas Intelijen Amerika Serikat) dalam peristiwa G30S telah terang benderang diungkap berbagai sumber. Peter Dale Scott, profesor dari University of California, menulis

US and the Overthrow of Sukarno 1965-1967 yang diterbitkan dengan judul CIA dan Penggulingan Sukarno (2004). Menurut Dale, CIA membangun relasi dengan para perwira Angkatan Darat dalam Seskoad (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat). Salah satu perwiranya adalah Soeharto.

Pada akhir 1965 Amerika Serikat memberikan perangkat komunikasi radio lapangan yang sangat canggih ke Kostrad. Antenanya dipasang di depan markas besar Kostrad. Wartawan investigasi, Kathy Kadane dalam wawancaranya dengan para mantan pejabat tinggi Amerika Serikat di akhir 1980-an menemukan bahwa Amerika Serikat telah memantau komunikasi Angkatan Darat melalui radio-radio tersebut.

Badan Keamanan Nasional AS menyadap siaran radio itu dan mengirim hasil sadapan itu ke Washington. Dengan demikian Amerika Serikat memiliki detil bagian demi bagian laporan tentang penyerangan Angkatan Darat terhadap PKI.

Amerika Serikat juga memberikan bantuan dana sebesar Rp50 juta (sekitar $10.000) untuk membiayai kegiatan KAP (Komite Aksi Pengganyangan Gerakan September Tiga Puluh) Gestapu. Selain itu, CIA juga memberikan daftar nama-nama tokoh PKI kepada Angkatan Darat.

Referensi:

http://historia.id/modern/lima-v...

http://www.msn.com/id-id/berita/nasional/5-skenario-dalang-gerakan-30-september/ar-BBwSgDd?li=AAfuHN

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pihak yang dianggap sebagai dalang peristiwa G30S PKI"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel